Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana…

May 23, 2011 § Leave a comment

Mei, 2010 FH UGM

Oleh Daus

KOMPAS.com — “Maafkan aku, Nak, ya. Urungkan niatmu untuk menjadi sarjana. Ayah tidak sanggup menyediakan uang sebesar itu dalam waktu sekejap.”

Kata itu mungkin yang sering muncul dari seorang ayah yang anaknya diterima menjadi mahasiswa jalur undangan perguruan tinggi negeri (PTN). Dulu, jalur ini dikenal dengan penelusuran minat dan kemampuan, atau kerap disingkat PMDK.

Bagaimana tidak, seorang teman di Facebook, Coen Husain Pontoh, menuliskan keluh kesahnya di statusnya. “Keponakan saya keterima di salah satu universitas terkemuka di Pulau Jawa melalui jalur “undangan”. Tapi, untuk bisa masuk kuliah, ia pertama kali harus bayar Rp 40 juta kontan,” tulisnya.

Kampusnya terkenal sebagai kampus rakyat, namanya: Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,” tulisnya di http://www.facebook.com/home.php#!/coenhusainpontoh/posts/10150185073318500.

Bayangkan, orangtua yang gajinya di atas upah minimum, katakanlah Rp 2,5 juta per bulan, belum tentu bisa menyediakan uang sebesar itu dalam waktu singkat. Kecuali, kalau orangtua itu nyambi korupsi tentunya. Padahal, upah minimum seorang buruh atau karyawan/karyawati di Jakarta berkisar Rp 1,2 juta.

Pada situs Pemprov DKI Jakarta tertanggal 29 November 2010 diberitakan bahwa upah minimum DKI Jakarta (UMP/UMR DKI Jakarta) tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp 1.290.000 per bulan per orang. Apa ini artinya? Artinya, jika kita anak seorang buruh yang gajinya sesuai dengan upah minimum atau dua kalinya upah minimum yang ditetapkan pemerintah, kita dilarang untuk menjadi mahasiswa.

Kampus hanya untuk orang kaya. Orang miskin dilarang masuk kampus untuk belajar. Yang boleh belajar di kampus adalah orang-orang kaya. Sementara jika pendidikan tinggi adalah salah satu pintu masuk untuk mengubah kehidupan agar lebih baik, pintu itu sekarang sudah perlahan-lahan ditutup.

Yang kaya makin kaya dan yang miskin tetaplah miskin. Tak peduli di negeri yang mengklaim berdasarkan Pancasila, yang berdasarkan Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan Sosial. Yang jelas di negeri ini anak orang miskin silakan minggir dari pendidikan tinggi.

“Salah sendiri lu miskin, orang miskin, enyah aja lu”.

Mungkin, itu kata-kata yang muncul di pikiran, hati, dan lisan para petinggi negeri ini, yang membiarkan komersialisasi pendidikan semakin menggila.

Nak, urungkan niatmu jadi sarjana ya….

Sudah jangan menangis terus, Nak….

Mungkin kita hidup di negeri yang salah.…

Di negeri yang menganggap orang-orang miskin hanya sekadar angka, bukan warga negara….

Penulis adalah anggota Kompasiana

http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/20/10261678/nak-urungkan-niatmu-jadi-sarjana

Advertisements

Jangan Kelabakan, Atur Jadwal Membaca!

May 23, 2011 § Leave a comment

KOMPAS.com – Suatu waktu, Anda pasti akan ditugaskan untuk membaca sebuah buku di sebuah kelas. Umumnya, hal ini akan lebih sering terjadi seiring dengan waktu Anda bersiap-siap masuk universitas.

Siswa-siswi sering mengalami masalah ketika berhadapan dengan deadline untuk tugas membaca buku, karena seringkali mereka mulai lebih lama. Mereka lalu membaca dengan terburu-buru dan melewatkan banyak detail yang penting.

Sulit? Tentu saja sulit jika Anda diberikan tugas laporan membaca, tapi Anda melupakan untuk memiliki jadwal membaca sebelum memulainya. Untuk itu, beberapa saran di bawah ini perlu diikuti:

– Teliti kembali berapa halaman dan bab yang Anda harus baca

– Susun berapa halaman yang harus Anda baca setiap minggu

– Atur jadwal pengingat pada telepon genggam Anda atau di buku jadwal.

– Ingatlah selalu, ketika Anda membaca sedikit-sedikit, Anda akan dapat lebih memahami buku tersebut ketika “melahapnya” sekaligus.

buka buku baca

(Sumber: http://www.educationworld.com)

http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/23/13153152/Jangan.Kelabakan..Atur.Jadwal.Membaca.

Ketika Hasrat Ingin Menulis Tidak Ada

May 22, 2011 § Leave a comment

di mana pena dan kertas membisu minta disentuh

Ketika hasrat ingin menulis tidak ada. Jari-jari tangan terpaku di atas tuts-tuts keyboard computer jinjing. Pensil tergenggam erat minta untuk digoreskan tintanya di kertas yang telah tersaji dari tadi. Ketika otak enggan untuk berfikir. Ketika hati terdiam padahal biasanya memohon kepada otak untuk sekedar menuliskan rasa-rasa. Sebegitu hebatkah peristiwa ini sampai-sampai waktu pun membeku dan tidak ingin melangkah pasti lagi. Seperti yang sudah digariskan.

Padahal banyak mimpi-mimpi yang ingin untuk dinotulensi. Kenangan-kenangan mengantri untuk diabadikan. Agar di lain waktu bisa untuk bahan tertawaan atau haru biru. Senyum minta disimpulkan dengan alasan walaupun hanya untuk pengingat bahwa aku pernah dibuat malu. Air mata sabar untuk diuntai yang suatu saat menjadi syukur atas pilihan untuk menitikkannya. Banyak lagi gejolak-gejolak yang tidak mampu disimpan hanya di hati. Tapi, mengapa aku masih begini? Menopang dagu sesekali bersedekap bersender di tembok kamar. Melamunkan yang sudah untuk kemudian dibawa tidur dan dibuat lebih dari yang telah terjadi.

Aku bukanlah pemimpi. Menikmati rasa hanya dibatin saja. Itu yang selama ini tlah aku lakukan. Cukup percakapan hati dan khayalan lalu menguap dan tidak dikristalkan. Membuatku malas hanya untuk menulis satu kata saja. Karena hanya dengan diam aku mampu mengulang kejadian-kejadian indah dan sakit dalam hidupku. Jadi mengapa harus repot-repot menulis? Fikirku malas.

Tidak. Aku tidak boleh malas menulis. Aku harus menulis. Harus? Menulis kan bukan paksaan? Bukan teman. Bukan seperti itu. Aku harus melecut semangat menulisku untuk kemudian agar dapat kurasakan bahwa menulis itu adalah kenikmatan bahkan anugerah.

Pengertian Hukum Agraria

May 8, 2011 § Leave a comment

Pengaturan tentang Agraria diatur dalam UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria atau sering disebut Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) menganut unifikasi hokum dan berdasarkan hukum adat. Menurut Boedi Harsono, hukum adat dijadikan sumber utama dan merupakan hukum aspiratif, dalam arti jika sesuatu hal belum diatur dalam peraturan maka yang berlaku hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan UUPA . Di dalam undang-undang ini tidak ada definisi yang menjelaskan apa itu agraria, tetapi dapat disimpulkan hukum agraria adalah hukum yang berkaitan dengan Tanah. Hal ini dapat dilihat pada batang tubuh UU ini yang jelas mengatur soal hak dan kewajiban orang atas tanah (dan ruang diatas tanah), selain itu mengatur juga tentang konversi hak-hak atas tanah yang terdapat dalam Hukum Perdata Barat (BW).

Hukum Agraria Ialah keseluruhan dari ketentuan hukum, yang mengatur hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain, termasuk Badan Hukum dengan Bumi, Air, dan Ruang Angkasa dalam seluruh wilayah dan mengatur pula wewenang yang bersumber pada hubungan tersebut.Hukum agraria secara umum diatur dalam UU No. 24 tahun 1960 tentang UU Pokok-pokok Agraria. Hukum agraria terdiri atas:

a.Hukum pertanahan:
Ialah bidang hukum yang mengatur hak-hak pengaturan atas tanah

b.Hukum pengairan:
Ialah yaitu bidang hukum yang mengatur hak-hak atas air

c.Hukum Pertambangan:
Ialah bidang hukum yang mengatur hak penguasaan atas bahan galian.Hukum pertambangan secara khusus diatur dalam UU no. 11 tahun 1967 tentang Pokok-pokok Pertambangan

d.Hukum kehutanan:
Ialah bidang hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas hutan dan hasil hutan.

e. Hukum Perikanan:
Ialah bidang hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas ikan dan lain-lain dan perairan darat lain.
Dalam Konsepsi hukum tanah adat yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat Indonesia, yang mengedepankan keseimbangan antara “kepentingan bersama” dengan “kepentingan perseorangan”. Pemilikan dan pemanfaatan tanah harus memperhatikan keselarasan. Dalam hukum tanah Barat dasarnya adalah “Individualisme” dan “liberalisme”. Secara harfiah individualisme merupakan suatu ajaran yang memberikan nilai utama pribadi, sehingga masyarakat hanyalah suatu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi. Dalam sistem hukum Belanda hak perorangan dinamakan “Hak Eigendom” di mana Eigem/orang-nya dapat berbuat apa saja dengan tanah itu baik menjual, menggadaikan, menghibahkan, menggunakan atau menelantarkan, dan bahkan merusaknya asal tidak bertentangan dengan undang-undang atau hak-hak orang lain.


Referensi:
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080829204044AAz96jS
http://www.konsultasihukumonline.com/isigol.php?id=3

    tugas Hukum Agraria tanggal 03 September 2009

Yang Katanya Teman

May 4, 2011 § Leave a comment

Ingat aku ketika kamu tidak ingat siapa pun
Ingat aku saat kamu sedang tidak ingin ingat siapa pun
Cari aku ketika kamu tidak butuh siapa pun
Cari aku saat kamu sedang tidak ingin butuh siapa pun
Ceritakan semua fikiran yang mengendap di otakmu
Luapkan kegundahan yang menyesaki hatimu
Ketika sepi menemanimu
Kamu sedang bosan
Carilah aku
Aku pasti akan mudah ditemukan
Panggilah aku
Tak lama kemudian aku pasti akan datang
Aku tetap di sini
Jangan khawatir
Aku selalu mengingatmu
Bahkan ketika memori kesabaranku sudah tidak mampu menampung masalahku sendiri
Karena aku adalah kotak sampahmu

sumber foto: photobucket.com

    Yogyakarta, 25 April 2011. Pukul 19.36; Ditemani secangkir kehangatan susu coklat panas dan setangkup kenyamanan roti bakar blueberry

Percakapan dengan Genangan Air

May 4, 2011 § Leave a comment

dok. pribadi

Bolehkah aku menunggumu? Tentu saja pertanyaan ini tidak aku ajukan langsung kepadamu. Aku hanya mampu bercakap pada air-air yang masih menggenang di pelataran rumah. Aku frustasi, ya, aku frustasi karena tidak mampu bercakap denganmu. Aku mencegat lalu-lalang di depanku, jangankan menoleh, orang-orang hanya memandangku iba. Kasihan. Aku tak menyerah, aku menjelajahi alam dan tak ada yang peduli. Hujan deras mulai turun. Aku berlari kembali ke rumah.

Memandang hujan dan aku tak berani mengatakan sekedar ‘halo’. Aku terlalu pengecut. Kelelahan menyergapku ganas. Aku tertidur dengan hujan di dekapanku. Aku mimpi berbincang denganmu, tertawa bahagia tanpa merisaukan lingkungan. Tempat kita berdua sepi, hanya ada silaunya cahaya yang kadang menghinggapi kita. Aku tertawa begitu keras hingga aku terjatuh. Sakit. Di luar hujan sudah reda. Aku mengerjapkan mata dan mendapati diriku telah bergelung dengan lantai. Wajah ku usap dengan sedih. Aku harus bagaimana lagi, lelah dengan mimpi yang menghantui setiap hari. Begitu indah dan tidak nyata.

dok. pribadi


Kubuka pintu, udara dingin menerpa dadaku. Ya, hujan telah reda, dan hei, ada yang menyapaku. Siapa dia? Aku langsung menunduk. Kamu, ya, kamu genangan air telah menyapaku. Aku senang. Aku menceritakan tentang kamu kepada kamu yang lain, kepada genangan air. Genangan air hanya mendengar tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Dengan khidmat kau menganggukkan kepala setiap aku memandangmu, tanda kau memperhatikan ceritaku. Benar, hanya pengeluaran kegundahanlah yang aku butuhkan. Tanpa nasihat, tanpa saran, ataupun pendapat ini itu. Terimakasih.

Helaan nafas menutup ceritaku. Aku dan genangan air saling berpandangan, tersenyum santun. Kamu mengucap pamit harus pergi. Aku tengadah menatap langit. Matahari telah keluar lagi dari persembunyian awan. Genangan air berjanji akan datang lagi kapanpun aku butuh. Aku menutup pintu dan lega.

beberapa hari lalu tanpa sengaja bertemu dengan seorang lelaki. Fisik lelaki itu mampu membuat dudukku melorot. Dia lebih dari sekedar ganteng. Dia hebat dalam hal berkomitmen. Baiklah, lelaki itu memang hanya mampu dilihat. Aku senang telah mengenalnya. CUkup itu saja

Where Am I?

You are currently viewing the archives for May, 2011 at elvira purba.