Percakapan dengan Genangan Air

May 4, 2011 § Leave a comment

dok. pribadi

Bolehkah aku menunggumu? Tentu saja pertanyaan ini tidak aku ajukan langsung kepadamu. Aku hanya mampu bercakap pada air-air yang masih menggenang di pelataran rumah. Aku frustasi, ya, aku frustasi karena tidak mampu bercakap denganmu. Aku mencegat lalu-lalang di depanku, jangankan menoleh, orang-orang hanya memandangku iba. Kasihan. Aku tak menyerah, aku menjelajahi alam dan tak ada yang peduli. Hujan deras mulai turun. Aku berlari kembali ke rumah.

Memandang hujan dan aku tak berani mengatakan sekedar ‘halo’. Aku terlalu pengecut. Kelelahan menyergapku ganas. Aku tertidur dengan hujan di dekapanku. Aku mimpi berbincang denganmu, tertawa bahagia tanpa merisaukan lingkungan. Tempat kita berdua sepi, hanya ada silaunya cahaya yang kadang menghinggapi kita. Aku tertawa begitu keras hingga aku terjatuh. Sakit. Di luar hujan sudah reda. Aku mengerjapkan mata dan mendapati diriku telah bergelung dengan lantai. Wajah ku usap dengan sedih. Aku harus bagaimana lagi, lelah dengan mimpi yang menghantui setiap hari. Begitu indah dan tidak nyata.

dok. pribadi


Kubuka pintu, udara dingin menerpa dadaku. Ya, hujan telah reda, dan hei, ada yang menyapaku. Siapa dia? Aku langsung menunduk. Kamu, ya, kamu genangan air telah menyapaku. Aku senang. Aku menceritakan tentang kamu kepada kamu yang lain, kepada genangan air. Genangan air hanya mendengar tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Dengan khidmat kau menganggukkan kepala setiap aku memandangmu, tanda kau memperhatikan ceritaku. Benar, hanya pengeluaran kegundahanlah yang aku butuhkan. Tanpa nasihat, tanpa saran, ataupun pendapat ini itu. Terimakasih.

Helaan nafas menutup ceritaku. Aku dan genangan air saling berpandangan, tersenyum santun. Kamu mengucap pamit harus pergi. Aku tengadah menatap langit. Matahari telah keluar lagi dari persembunyian awan. Genangan air berjanji akan datang lagi kapanpun aku butuh. Aku menutup pintu dan lega.

beberapa hari lalu tanpa sengaja bertemu dengan seorang lelaki. Fisik lelaki itu mampu membuat dudukku melorot. Dia lebih dari sekedar ganteng. Dia hebat dalam hal berkomitmen. Baiklah, lelaki itu memang hanya mampu dilihat. Aku senang telah mengenalnya. CUkup itu saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Percakapan dengan Genangan Air at elvira purba.

meta

%d bloggers like this: