Balada (Segelas) Kopi

June 4, 2011 § Leave a comment

Hari ini pukul satu kurang seperempat dini hari. Aku masih terjaga. Seperti malam-malam biasanya. Di atas meja kecil hijau terpampang segelas kopi. Ya, bukan cangkir pasangan kopi bagiku. Tapi gelas ungu dari melamine. Bukan apa-apa. Hanya saja kopi sachet dalam cangkir terasa sangat manis di lidahku yang tak suka gula. Gelas ungu ini lebih besar. Pas di lidah kereku.

Aku peminum kopi. Selain air putih tentunya. Tapi aku bukan penikmat kopi. Menemukan filosopi di tiap bijinya atau di sesesap aromanya. Aku hanya minum kopi kala ingin membunuh malam. Aku terus meminumnya dengan mengingat tips kesehatan. Sehari hanya boleh meminum satu cangkir. Kopinya pun bukan kopi hitam pait atau hasil racikan sang maestro. Hanya sesachet kopi seribu rupiah yang di kemasan warna biru mudanya bertuliskan coolin.

Orang berkeyakinan bila minum kopi akan susah tidur. Tuhan kadang membuat bingung. Karena ketika ingin cepat tidur, aku akan meminum kopi. Tidak ada efeknya bagiku, malah membuat semakin mengantuk.

Aku memang minum kopi. Tapi tidak lantas menjadi sebuah gaya hidup. Harus ke coffe shop atau ke kafe dulu baru bisa menikmati sehirup wangi kopi. Karena sekali lagi aku kere. Cukup seribu rupiah saja bagiku untuk meminum kopi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Balada (Segelas) Kopi at elvira purba.

meta

%d bloggers like this: