Sosiologi Hukum (Sedikit Bahan untuk UTS)

October 30, 2011 § Leave a comment

TEORI SOSIOLOGI

1. Teori Fungsionalisme/Fungsionalisme Struktural

  • Setiap masyarakat adalah suatu struktur unsur yang relatif gigih dan stabil.
  • Mempunyai struktur unsur saling terkait yang terintegrasi dengan baik.
  • Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu sistem.
  • Setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan pada konsensus mengenai nilai di kalangan para anggotanya.

Tokoh:

  1. Auguste Comte (Bapak Sosiologi dari Perancis)
  2. Emile Durkheim
  3. Parsons
  4. Robert Menton (tokoh yang sudah agak modern).

2. Teori Konflik
Asumsi untuk mengatasi masalah sosial:

  • Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan (karena bukan statis, tapi dinamis)
  • Disensus dan konflik terdapat di mana-mana.
  • Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada desintegrasi dan perubahan masyarakat.
  • Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain.

Tokoh:

  1. Karl Marx (Historical Materialism, matter-mind)

Sering disebut Teori Perjuangan Kelas, terjadi karena material base (faktor materi) bukan faktor idealita. Dikarenakan kebutuhan utama masyarakat adalah materi.
Terbagi dua kelas (pertentangan kepentingan ekonomi)
a. Borjuis: tidak mau kehilangan harta.
b. Proletar/buruh: tidak mau terus hidup susah.
 Konfliknya tuan tanah-penggarap.

2. Max Weber.

3. Coser (Sosiolog yang relatif agak baru).
4. Dahrendorf (Sosiolog yang lebih baru lagi): konflik merupakan sumber terjadinya perubahan sosial.

3. Teori Pertukaran
Dimasukkan ke dalam mikrososiologi. Sementara dua teori sebelumnya (fungsionalisme dan konflik) masuk ke makrososiologi.
Berangkat dari asumsi tertentu:
1. Manusia selalu berusaha mencari keuntungan dalam transaksi sosialnya dengan oranglain.
2. Dalam melakukan transaksi sosial, manusia melakukan perhitungan untung rugi.
3. Manusia cenderung menyadari adanya berbagai alternatif yang tersedia baginya.
4. Manusia punya kecenderungan bersaing satu dengan yang lain.
5. Hubungan pertukaran secara umum antar individu berlangsung dalam hampir semua konteks sosial.
6. Individu pun mempertukarkan berbagai komoditas tidak berwujud, seperti perasaan dan jasa (curhat).
Tokoh:
1. Malinowski
2. Levi Strauss
3. Peter Blau
4. Homans: seseorang akan makin cenderung melakukan tindakan manakala tindakan tersebut makin disertai imbalan.

4. Teori Interaksionalisme Simbolik (masuk lingkup mikrososiologi)
Berangkat dari asumsi tertentu:
1. Manusia merupakan makhluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol.
2. Manusia memakai simbol untuk berkomunikasi tidak hanya kata-kata/ucapan, tapi juga bahasa tubuh.
3. Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (role taking) apabila tahu tentang orang tersebut.
4. Manusia tercipta, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, mendefinisikan, melakukan keuangan, dan untuk melakukan evaluasi.

Sangat sedikit hasil catatan yang bisa saya bagikan. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan semua yang akan menghadapi UTS besok. Viva La Furia Roja hahaha
-Elvira Purbaningtyas, 08/267629/HK/17863-

Advertisements

Adekku Raksasa

October 20, 2011 § Leave a comment

Namanya Erlina Intan Swasti. Tapi, cukup kita panggil Intan saja. Dia adalah adek saya satu-satunya. Umur kami terpaut 5 tahun. Tepat lima tahun. Karena dia juga lahir di tanggal 15 Juli, tepatnya 15 Juli 1995. Dan dia juga lahir di dini hari. Sekarang dia kelas 2 SMA. Masa paling keren dan labil dalam hidup, menurut saya.

    Kami berbeda 180 derajat. Saya jelek dia cantik. Saya macho dia feminim. Saya suka sepatu kedz dia suka wedges. Saya suka hitam dia suka pink. Kulit saya coklat dia putih, walaupun agak gosong. Saya pintar dia pemalas (jangan dipedulikan). Saya judes dia sadis (sama saja) hahaha.
aku 157 dia 160

Ibu selalu memasangkan baju yang sama di badan kami. Dan kami selalu menolak. Ataupun kalau harus dipakai karena terpaksa. Bukan apa-apa, hanya saja saya selalu tidak percaya diri bila di dekatnya. Tak akan ada orang yang melirik saya karena semuanya telah melotot memandang dia. Saya tidak pernah iri, malah saya bersyukur mempunyai adik berwajah manis. Walaupun hal itu kadang saya ratapi, kenapa muka kami tidak mirip padahal kami saudara kandung.

Dia lebih tinggi dari saya. Padahal umurnya baru 16 tahun, jadi kans dia untuk tumbuh masih banyak. Sedangkan usia saya telah menginjak 21 tahun 3 bulan, yang artinya pertumbuhan tinggi badan telah mandek. Hahaha. Saya merasa orang kerdil kalau di dekatnya. Dia terlihat raksasa di mata saya. Sungguh. Dan yang lebih memilukan adalah saya pendek dan agak gemuk. Bulat.

Dia adek saya. Dan saya tidak pernah iri padanya. Sungguh. Saya yakin saya punya suatu kelebihan dibanding dia. Yang mana kelebihan itu dapat dia syukuri.

dari jumlah 6 anggota keluarga, 5 di antaranya perempuan hahaha

Namanya Intan. Tapi saya lebih suka memanggilnya Intonot Komporosonot. Itu bukan panggilan sayang. Akan tetapi makian saya apabila sedang sebal dengannya. Dia adek saya. Satu-satunya. Saya sangat bangga terhadapnya, lebih-lebih sayang. Semoga dia sadar hal itu.

Pas Baca Bagian Ini…. Menetes. Sediiiih

October 11, 2011 § Leave a comment

“Saya ingin tanya sama kamu, Gy,” ucap Remi. “Apakah Keenan pernah meminta buku ini dari kamu?”
Kugy bahkan tak bisa menemukan suaranya sendiri. Ia hanya bisa menggeleng.
“Lalu … kenapa saya harus meminta untuk bisa kamu kasih?”
Sesuatu berhasil bergerak. Menembus kebisuan dan kebekuan yang mengunci Kugy. Sebutir air mata.
Seolah menyentuh boneka porselen, dengan teramat halus Remi menggenggam telapak kiri Kugy, tempat cincin pemberiannya melingkar. “Apakah kamu pernah minta cincin ini dari saya?”
Butir kedua. Dan Kugy kembali menggeleng.
“Lalu … kenapa saya yang harus minta supaya kamu mau pakai?”
Kugy hampir tak bisa bernapas. Berusaha menekan isaknya sekuat tenaga. Namun, ia tidak berhasil. Isak pelan kini berhasil menembus kebisuan dan kebekuan.
Masih dengan kehalusan yang sama, kali ini Remi menarik lepas cincin di jari Kugy. Hati-hati. “Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.”
Bahu Kugy berguncang tanpa bisa lagi ia tahan. “Tapi … orang itu kan kamu … aku … aku nggak pernah minta apa-apa … tapi … tapi, kamu kasih semuanya …,” Kugy berkata terengah, di sela isakan dan desakan yang begitu kuat menyesak di dadanya.
“Iya, Gy,” Remi mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Kugy, “kamu mungkin sudah ketemu. Saya yang belum,” suara Remi mulai bergetar. “Saya yang belum …,” ucapnya lagi, separuh berbisik. Seolah ia sedang memberi tahu dirinya sendiri.
Remi lalu bangkit, sejenak mendekap Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi.
Kebekuan dan kebisuan runtuh sudah. Meski segalanya tampak mendung dan murung, sesuatu berhasil mencair di antara mereka. Kejujuran. Dan seolah bergerak bersama-sama, langit pun mulai merintikkan hujan. Apa yang lama tak terungkap akhirnya pecah, meretas, dan Bumi melebur bersamanya.

      (

Dewi Lestari-Perahu Kertas, halaman 426-427

    )

Penggalan Kata Film

October 8, 2011 § Leave a comment

Emotions run deep within our race. Logic offers a serenity humans seldom experience. The control of feelings so that they do not control you. (Star Trek)

Now you know what I do for a living. I’m not perfect, but you should have waited. I was worth it. (Lee Christmas-The Expendables)

We didn’t break up. We never started. (No String Attached)

Sukaaaa banget nyimak kata-kata di film. Nggak tau kenapa, sepotong kalimat yang diucapkan pemain-pemainnya menurutku lebih penting daripada alur cerita filmnya sendiri. Menurutku loh.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for October, 2011 at elvira purba.