Ternyata Sesederhana yang Dikata Orang

September 9, 2012 § Leave a comment

Bahagia itu sederhana.

Saya baru merasakan hal itu. Pergi bertiga dengan adek perempuan (Intan) dan sepupu (Mbak Puput) menonton pawai gerak jalan tadi pagi di kabupaten. Sederhana dan gratis. Mungkin hanya perlu mengeluarkan bensin sedikit.

Berkumpul bersama dengan orang yang belum pernah dikenal dan mungkin tak akan pernah tau siapa dia. Menonton pasukan orang berseragam yang berusaha untuk menyamakan langkah dengan rapinya. Tak pernah berhenti memberikan komentar tiap pasukan-pasukan berseragam warna-warni lewat di depan mata. Hal-hal klasik seperti, “Wah cewek baris tiga kanan itu cantik”, “Pantas dipasang di tengah, senyumnya manis, sih”, “Sumpah! Adek yang tengah itu ganteng, sayang sadar kamera”, dll hingga hal-hal rumit seperti formasi, display, atau kerapian baris berbaris (Intan yang bisa memberikan komentar itu karena hanya dia yang berpengalaman).

Tertawa-tawa girang melihat joget-joget aneh yang ditayangkan oleh beberapa pasukan. Dan berbisik-bisik waktu sekolah kami yang kebetulan berbeda lewat. Dan saya sempat pangling dengan SMA saya kalau Mbak Puput tidak menyebut SMA N 1 Sewon yang terpampang jelas di badge kirinya (maklumlah saya sudah 4 tahun meninggalkannya. Oke tua).

Bahagia itu sederhana.

Melihat adek saya tersenyum, kadang melongo kagum, atau pun bersemangat kala memotret pasukan bersegaram dengan kamera hasil “jerih payahnya”.

Terimkasih, Tuhan.

Saya bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada adek saya satu-satunya. Walaupun kecil, tapi saya pun mampu tersenyum dalam hati. Tuhan, tolong sampaikan sebuah pesan kepadanya lewat mimpi malam ini.

Tan, Mbak Vira sayang kamu. Mbak seneng bisa ngebahagiain kamu hari ini. Maaf kalo Mbak belum bisa ngasih lebih dari itu. Insya Allah secepatnya Mbak bisa ngebantu Bapak-Ibu menghidupkan mimpi kamu. Bantu dengan doa, ya, Tan.

Tuhan, tolong titip pesanku tadi, ya. Harus disampaikan, oke?

Ah, ternyata bahagia itu memang sederhana.

Advertisements

Percakapan dengan Ibu

December 27, 2011 § 2 Comments

Kembali dan kembali Ibu bertanya kepada saya, pertanyaan paling sakral dan menggelisahkan saat ini, Skripsi.

Ibu: Kapan kamu mulai nulis, Nduk?

Saya: Semester depan, Bu.

Ibu: Udah tau mau ngangkat apa?

Saya: Belum. Aku masih bingung.

Ibu: Kenapa?

Saya: Banyak judul yang mau aku bahas, tapi nggak terkonsep.

Ibu: Lha, kamu sebenernya pengen nulis apa, to? Yang gampang aja penelitiannya, dinas mana nanti Ibu bantuin.

Saya: Nggak taulah, Bu. Aku masih bingung. Pokoknya pengen ngebahas pegawai negeri aja.

Ibu: Mbok jangan susah-susah, dan jangan nggampangke gitu, toh. Jatahmu di UGM bentar lagi abis loh. Ibu udah nggak punya uang lagi kalo pengen kamu perpanjang.

Saya: Iya, Bu.

Ibu: Ah, udalah Ibu nyerah. Kamu tanya Bude Titin aja. Dia kan dulu kuliah di Hukum. Ibu nggak bisa bantu banyak kalo kamu kayak gitu terus.

Saya: *diem ngampet nangis.

Enam bulan lewat sudah sejak saya dengan berapi-api mengatakan, “Teman-teman boleh skripsi semester ini, tapi tunggu aja, pas saya besok entry KRS Penulisan Hukum, saya tinggal nulis.” Dan ternyata sampai sekarang, jangankan judul, mau ngebahas apa aja saya masih bingung. Saya mentok di ide-ide hebat saya, tapi kata orang-orang yang lebih mengerti jatuhnya susah di penelitian. Tema Kepegawaian, Kasus Perceraian PNS di Bantul (siapa yang mau jadi responden?), Fenomena Perselingkungan PNS di Bantul (Ya Allah, ini mah aib orang!); Kesehatan, Jaminan Askes bagi PNS korban merapi (it’s so yesterday, eeeel); Pariwisata, pengembangan pariwisata pantai parangtritis (nggak cuma satu, tapi udah banyak judul yang terbahas).

« Read the rest of this entry »

Ada Sesuatu di Balik Kayu-Kayu. Coba Cari

November 3, 2011 § Leave a comment

Adekku Raksasa

October 20, 2011 § Leave a comment

Namanya Erlina Intan Swasti. Tapi, cukup kita panggil Intan saja. Dia adalah adek saya satu-satunya. Umur kami terpaut 5 tahun. Tepat lima tahun. Karena dia juga lahir di tanggal 15 Juli, tepatnya 15 Juli 1995. Dan dia juga lahir di dini hari. Sekarang dia kelas 2 SMA. Masa paling keren dan labil dalam hidup, menurut saya.

    Kami berbeda 180 derajat. Saya jelek dia cantik. Saya macho dia feminim. Saya suka sepatu kedz dia suka wedges. Saya suka hitam dia suka pink. Kulit saya coklat dia putih, walaupun agak gosong. Saya pintar dia pemalas (jangan dipedulikan). Saya judes dia sadis (sama saja) hahaha.
aku 157 dia 160

Ibu selalu memasangkan baju yang sama di badan kami. Dan kami selalu menolak. Ataupun kalau harus dipakai karena terpaksa. Bukan apa-apa, hanya saja saya selalu tidak percaya diri bila di dekatnya. Tak akan ada orang yang melirik saya karena semuanya telah melotot memandang dia. Saya tidak pernah iri, malah saya bersyukur mempunyai adik berwajah manis. Walaupun hal itu kadang saya ratapi, kenapa muka kami tidak mirip padahal kami saudara kandung.

Dia lebih tinggi dari saya. Padahal umurnya baru 16 tahun, jadi kans dia untuk tumbuh masih banyak. Sedangkan usia saya telah menginjak 21 tahun 3 bulan, yang artinya pertumbuhan tinggi badan telah mandek. Hahaha. Saya merasa orang kerdil kalau di dekatnya. Dia terlihat raksasa di mata saya. Sungguh. Dan yang lebih memilukan adalah saya pendek dan agak gemuk. Bulat.

Dia adek saya. Dan saya tidak pernah iri padanya. Sungguh. Saya yakin saya punya suatu kelebihan dibanding dia. Yang mana kelebihan itu dapat dia syukuri.

dari jumlah 6 anggota keluarga, 5 di antaranya perempuan hahaha

Namanya Intan. Tapi saya lebih suka memanggilnya Intonot Komporosonot. Itu bukan panggilan sayang. Akan tetapi makian saya apabila sedang sebal dengannya. Dia adek saya. Satu-satunya. Saya sangat bangga terhadapnya, lebih-lebih sayang. Semoga dia sadar hal itu.

3E -Enggar-Erlani-Elvira- (E ke-4 belum lahir-Erlina-)

June 12, 2011 § Leave a comment

ki-ka: Erlani (2), Eyang Wignyo, Enggar (1), Elvira (3)

Mereka (memang) Saudaraku

April 20, 2011 § Leave a comment

Menjadi anak tengah memang tidak selalu menyenangkan. Terlebih dua kakak perempuan dan adek (perempuan juga) adalah saudara yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Mempunyai beragam sifat pun sikap. Saya selalu menahan gemuruh dendam apabila dibuat kesal. Namun, siapa yang tahu? Merekalah alasan aku selalu mengucap syukur

1. Enggar Arikanita

Selalu dan selalu memerintah adik-adiknya untuk sungkan kepada Bapak Ibu. Selalu dan selalu cerewet dengan ribuan omongan (sok) bijaknya untuk kami, tiga adiknya. Masa remaja dihabiskan dengan cerita cinta khas novel teenlit, basket dan labrak-labrakan. Namun, bekerja satu tahun di Bandung di Perusahaan Pharos (obat) mempertemukannya dengan Joko Purnomo suaminya kini. Menikah di bulan Agustus 2006 telah menghadirkan malaikat cantik bernama Falisha Anila Purnomo.

mba nita

mba nita dan aku

“Perlu kamu tahu, “Aku sayang banget kamu, untuk senyum dan marahmu.”

2. Erlani Yorienda Putri (Mba Rinda)

Hidupnya keras. Penuh tempaan cobaan. Sendirian membesarkan jagoan nakal si Pasha Ali Makrus memang dirasa sangat berat. Apalagi bila menghitung materi. Apa yang bisa diandalkan oleh seorang single parent yang hanya bekerja di SD N 1 Jageran? Tidak ada. Namun, dengan tabah dia mau mengakui kesalahannya. Dan menjalaninya, ikhlas.

mba rinda

bersama pasha dan falish (mba nita kecil)

Kakak paling sok (pengen) tau ini kadang kehadirannya enggan diharapkan. Apalagi bila dia tahu semuanya tentang rahasia terbesar kami, tiga saudara kandungnya.

“Mba, kamu hebat. Semua orang tahu itu. Kamu kuat. Dan kamu sadar itu. Teruslah menjadi idola bagi anakmu itu.”

3. Erlina Intan Swasti (Dek Intan)

intan

dan dialah adek kesayangan


Mengapa perlu menulismu? Sementara kamu adalah adek paling ngeyel sedunia fana? Entah. Kamu adalah perempuan tangguh di mataku. Dengan menantang, kamu selalu mengabaikan omongan orang yang meremehkanmu. Ya, hidupmu jarang dihargai oleh mereka. Bahkan mungkin aku juga. Maaf. Kamu masih muda. Baru kelas 1 SMA. Kamu tak perlu tegar. Sesekali menangislah kencang. Semprot orang-orang itu dengan airmatamu. Belum saatnya rahangmu mengeras. Tak perlu kamu iri dengan mbak-mbakmu. Sebentar lagi kamu bisa tidak mengenakan seragam lagi. Sebentar lagi kamu bisa merasakan empuknya pelaminan. Masamu pasti akan datang. Jangan kamu dewasa sebelum kata itu menghampirimu.

21 Mei 2011 (Saat Ini)

April 20, 2011 § Leave a comment

Kartini adalah suatu sosok, bukanlah nama. Dan menjadi simbol dewasa ini, seperti dibilang Goenawan Mohammad, “’Kata Kartini’ sendiri dlm “Hari Kartini” hanya simbol. Hidup tokoh ini jauh lebih kompleks ketimbang hanya soal emansipasi perempuan..” Lanjutnya, “Bagi saya, Kartini itu korban kondisi sosial zamannya. Justru sebab itu hrs diingat.”

Aku pun boleh menempatkan perempuan-perempuan hebat di hati dan hidupku untuk kujadikan Kartini-ku.

 Sumar Hanggari (Ibu Yi)

ibu

ibu dan bapak. bersama si pasha jagoan keluarga


Perempuan hebat dari manakah ini? Pastinya bukan dari Jepara. Dia terlahir untuk menjadi perempuan kuat dalam keluarganya. Wanita karir dengan bersuamikan Sukiyo seorang Pelaksana di bidang Bangunan ini mempunyai empat orang putri. Dua putrinya telah melahirkan seorang cucu perempuan dan cucu laki-laki. Dua putri lainnya masih mengandalkan penghasilannya dari kantor DPKAD PEMDA BANTUL untuk biaya kuliah dan sekolah.

Didikan keras dari Bapaknya R. Niti Premudjo membuatnya tegas dalam menjalani hidup. Beliau berani menentang keenam mas-masnya untuk mendapatkan hak yang dianggap memang benar untuknya.  “Jangan pernah menjawab satu kata Ibu dengan satu kalimat,” selalu beliau pesan kepada kami, putrinya. Maksud dari petuah tersebut adalah, bila kamu anggap benar nasehat Ibu, jangan pernah kamu bantah dan segera kamu laksanakan.

Entah, sudah lelah aku menulis, teriak, ataupun membatin untuk mengungkapkan rasa hormat dan cintaku kepada beliau. Pun beribu terimakasih.

“Bu, engkaulah Kartini terhebat yang pernah ada,” Bukan dia sekalipun.

Where Am I?

You are currently browsing the keluarga category at elvira purba.